resume

resume : Apriyanti Rahayu 230210080010
Istilah : Risa Rahamdani 230210080037

Ekologi memiliki arti yang berkaitan dengan materi, energi dan informasi . Energi dalam hal ini adalah energi yang berkaitan dengan hukum Termodinamika I dan II. Ilmu Ekologi ini berkembang sekitar tahun 1800-an. Habitat, relung, ekosistem, adaptasi, dan evolusi merupakan satu kesatuan dalam suatu ekologi.

niche

Niche atau nicia atau relung , tidak hanya meliputi ruang/tempat yang ditinggali organisme, tetapi juga peranannya dalam komunitas, dan posisinya pada gradient lingkungan: temperatur, kelembaban, pH, tanah dan kondisi lain. Niche dapat pula dikatakan “pekerjaan” mahluk hidup pada habitatnya.
Di dalam ekologi ini terdapat sebuah proses yang terus- menerus antara atmosfer, daratan dan lautan yang disebut siklus Biogeokimia. Rantai makanan adalah salah satu siklus Biogeokimia.
Nutrien dapat masuk dalam sebuah ekosistem dapat dilalui 4 jalur , yaitu :
1. Weathering
2. Atmospheric Input
3. Biological Nitrogen Fixation
4. Immigration
Sedangkan ekosistem dapat pula kehilangan nutrient, yaitu dengan cara :
1. Erosion
2. Leaching, intrusi
3. Gaseous Losses
4. Emigration and Harvesting

Siklus Nitrogen, Siklus Fosfor, Siklus Karbon dan Siklus Oksigen merupakan Siklus Biogeokimia.
a. Siklus Nitrogen
siklus

b. Siklus Fosfor
Di alam, Fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosffat organik ( pada tumbuhan dan hewan ) dan senyawa fosfat anorganik ( pada air dan tanah).

c. Siklus Karbon dan Oksigen
Merupakan siklus Biogeokimia yang terbesar. Ada 3 hal yang terjadi pada karbon, yaitu : 1)Tinggal dalam tubuh,2)Respirasi oleh hewan, 3) Sampah/sisa.

Dari penjelasan di atas tentang gambaran penting tentang ekologi, dapat di jadikan sebagai bahan pembelajaran adalah ekologi tentang laut tropis. Laut tropis adalah lautan yang disinari oleh matahari terus- menerus sepanjang tahun dan hanya memiliki 2 musim hal ini mengakibatkan produktivitas primer di laut konstan sepanjang tahun. Karena ketersediaan produsen inilah keanekaragaman hayati di laut tropis lebih banyak daripada laut subtropik ataupun laut kutub. Sebagai contoh adalah laut di Indonesia. Laut di Indonesia memiliki 600 spesies terumbu karang, 40 spesies mangrove, 12 spesies lamun, 56 spesies rumput laut dan meneghasilkan ikan 6,6 juta ton /tahun nya.

Ekosistem di wilayah pesisir dan laut di iklim tropis, yaitu ;
a. Ekosistem Terumbu Karang
Terumbu karang adalah karang yang terbentuk dari kalsium karbonat koloni kerang laut yang bernama polip yang bersimbiosis dengan organisme miskroskopis yang bernama zooxanthellae. Luas terumbu karang Indonesia diperkirakan mencapai 60.000 km2, namun hanya 6,2% saja yang kondisinya baik. Hal ini dapat ditentukan dengan menggunakan Metode Transek Garis atau Line Intercept Transect (LIT) dan Petak contoh (Transect plot). Manfaat terumbu karang adalah menyediakan berbagai barang dan jasa untuk makanan dan mata pencaharian, pariwisata, sumber bahan obat dan kosmetik, dan habitat.

b. Ekosistem Lamun
Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang hidupnya terbenam di dalam laut. Padang lamun ini merupakan ekosistem yang mempunyai produktivitas organik yang tinggi. Fungsi ekologi yang penting yaitu sebagai feeding ground, spawning ground dan nursery ground beberapa jenis hewan yaitu udang dan ikan baranong, sebagai peredam arus sehingga perairan dan sekitarnya menjadi tenang.

c. Ekosistem Mangrove
Hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Luas hutan mangrove di Indonesia merupakan yang terluas di dunia (2,5-3,5 juta Ha,18-23 % luas mangrove di dunia dan lebih luas dari Brasil). Manfaat Mangrove adalah nursery ground, spawning, dan feeding ground banyak spesiesikan dan udang dan memberikan perlindungan terhadap gelombang.

istilah
DAFTAR ISTILAH

Abiotik : komponen alam semesta yang tidak hidup
Abrasi : proses pengikisan tanah oleh gelombang dan arus laut
Adaptasi : cara makhluk hidup mengatasi tekanan lingkungan untuk bertahan hidup
Aerobik : organisme yang tumbuh dengan memerlukan oksigen
Air tanah : air yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan di bawah permukaan tanah
Aliran energi : suatu rangkaian pemindahan energi dari suatu energi ke energi yang lain
Amensalisme : hubungan dua makhluk hidup dimana salah satu pihak di rugikan dan yang lain tidak mendapat apa-apa
Anaerobik : suatu proses pemecahan senyawa atau bahan-bahan organis tanpa adanya oksigen
Asam amino : senyawa organik yang merupakan satuan penyusun protein yang mempunyai gugus amino dan karboksilat
Atmosfer : suatu lapisan gas yang melindungi bagian planet dari permukaan planet sampai bagian yang paling jauh dari planet tersebut
Bakteri : mikrooganisme prokariot bersel tunggal yang hanya dapat dilihat morfologinya dengan bantuan mikroskop dan jumlah yang paling banyak dibandingkan makhluk hidup lainnya
Bendungan : suatu tembok penahan air yang digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat
Biosfer : lapisan tempat tinggal seluruh makhluk hidup dan hubungan interaksinya
Biota : keseluruhan kehidupan pada suatu wilayah dan waktu tertentu
Biotik : komponen alam semesta yang hidup
Budidaya : suatu usaha secara intensif dan berkesinambungan melalui manajemen yang profesional dan pemeliharaan suatu organisme dalam wadah yang terkontrol.
Cagar alam : suatu kawasan yang ekosistemnya dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami
Cuaca : keadaan udara pada sutau wilayah yang sempit dalam waktu satu hari
Cyanobakteria : makhluk perairan yang dapat berfotosintesis
Danau : suatu cekungan di permukaan bumi yang berisi air dan dikelilingi oleh daratan
Dekomposisi : proses pada saat mikroorganisme mengurai makhluk hidup yang telah mati dan mengubahnya menjadi mineral dan nutrisi yang berguna
Delta sungai : endapan di muara sungai yang terletak di lautan terbuka, pantai, atau danau, sebagai akibat dari berkurangnya laju aliran air saat memasuki laut
Denitrifikasi : nitrat direduksi sehingga terbentuk nitrit dan akhirnya menjadi amoniak yang tidak dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan
Difusi : berpindahnya zat dari larutan yang berkonsentrasi tinggi ke larutan yang berkonsentrasi rendah
Ekologi : ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup dengan lingkungannya
Ekosistem : adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya
Ekspor: perpindahan suatui materi dari dalam keluar
Endapan : suatu materi yang menumpuk di daerah tertentu disebabkan oleh media air, udara, angin
Energi tidal : suatu aliran energi berasal dari arus bawah laut
Erosi : suatu peristiwa pengikisan padatan dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami
Estuaria : perairan muara sungai semi tertutup yang berhubungan dengan laut bebas
Evolusi : perkembangan makhluk hidup dari bentuk yang sederhana ke betuk yang lebih kompleks secara bertahap dan waktu yang sangat lama
Feedeng ground : tempat mencari makan
Fiksasi nitrogen : pembentukan nitrogen dlm bentuk terikat, terjadi di dlm tanah oleh bakteri
Fishing ground : tempat mencari ikan
Fitoplankton : organisme hidup hanyut di bagian atas air atau zona pelagik yang hidup di bagian atas air
Fosil : sisa-sisa makhluk hidup yang tertutup oleh sedimen dan menjadi batu atau mineral
Fotosintesis : suatu proses biokimia yang dilakukan oleh beberapa jenis makhluk hidup untuk memproses makanannya sendiri dengan memanfaatkan energi cahaya
Garis pantai : batas pertemuan antara laut dan pantai pada saat terjadi pasang tertinggi
Gelombang : getaran yang merambat
Gurun : sutau daerah yang sedikit menerima curah hujan sehingga daerah di sekitarnya gersang dan sulit apabila dijadikan tempat hidup
Herbivora : hewan yang kesehariannya pemakan tumbuhan
Heterotrofik : organisme yang membutuhklan senyaw aorganik untuk pertumbuhannya
Hidrosfer : lapisan air yang menutup permukaan bumi
Hutan hujan : hutan yang berada di daerah tropis dan banyak menerima hujan sepanjang tahun

Hutan musim: hutan yag berda di daerah curah hujan tinggi tapi pada saat kemarau akan menggugurkan daunnya

Iklim : keadaan rata-rata udara dalam waktu yang panjang
Imigrasi : perpindahan suatu materi dari luar ke dalam
Karnivora : hewan yang kesehariannya pemakan daging
Karohidrat : senyawa oragaik yang mengandung karbon, hidrogen, oksigen
Kebun : suatu lahan yang biasa ditanami berbagai jenis tanaman
Kelembapan : persentasi jumlah air dalam udara
Komensalisme : hubungan dua makhluk hidup yang salah satunya tidak mendapat keuntungan dan tidak di rugikan, sedangkan yang lainnya mendapat keuntunangan
Kompetisi : persainangan dua makhluk hidup atau lebih untuk memenuhi kebutuhannya
Komunitas : sutau kelompok sosial dari beberapa spesies yang berbagi lingkungan yang memiliki ketrkaitan yang sama
Konservasi : upaya pelestarian dengan pengelolaan secara hati-hati terhadap lingkungan dan sumber daya alam
Konversi : perubahan fungsi lahan
Lahan : zat sisa yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik dari industri maupun rumah tangga
Lamun : tumbuahn tingkat tinggi yang dapat hidup di laut dangkal
Lempung : suatu partikel mineral berbahan dasar silikat atau yang bias adisebut tangh liat
Lereng pegunungan : bagian miring dari sisi gunung
Litosfer : lapisan bumi yang paling luar
Makronutrien: bahan makanan yang mengandung karbohidrat, protein dan lemak
Mangrove : vegetasi yang tumbuh pada tanah lumpur di dataran rendah sepanjang garis pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut
Mikronutrien : bahan makanan yang mengandung mineral, zink, dan kalsium
Mutualisme : hubungan dua makhluk hidup yang saling menguntungkan
Niche : merupakan tempat tinggal organisme dan juga peranannya dalam komunitas, dan posisinya pada gradient lingkungan
Nursery ground : tempat pertumbuhan ikan
Nutrien : unsur atau senyawa kimia yang digunakan untuk metabolisme atau fisiologi organisme
Organisme : kumpulan molekul-molekul yang saling mempengaruhi sehingga berfungsi secara stabil dan memiliki sifat hidup
Osmotrof : organisme yang menyerap senyawa organik dalam bentuk larutan
Padang rumput : lapangan yang dipenuhi rumput dan tanaman yang tak berkayu
Pagotrof : organisme yang melakukan pengunyahan senyawa organic dlm bentuk partikel padat
Parisitisme : hubungan dua makhluk hidup dimana salah satu pihak mendapat keuntungan sedangkan yang lain dirugikan
Pasir : butiran material yang berasal dari pengikisan batuan
Pelagik : laut lepas
Penambangan : rangkaian kegiatan dalam upaya pencarian, pengolahan, pemanfaatan dan penjualan bahan galian mineral di dalam perut bumi
Pesisir : wilayah peralihan ekosistem darat dan laut yang saling berinteraksi
PH : derajat keasaman untuk mengukur kadar asam atau basa pada suatu larutan
Populasi : sekelompok makhluk hidup sejenis yang hidup di wilayah dan waktu yang sama
Predator : hewan yang berburu dan memangsa hewan lain
Protein : salah satu bio-makromolekul yang penting perananya dalam makhluk hidup
Rantai makanan: perpindahan energi makanan dari produsen (tumbuhan) hingga ke konsumen tingkat akhir (herbivora-karnivora) melalui seri organisme
Reklamasi lahan : memperbaiki kondisi lahan yang telah rusak
Respirasi : suatu proses pengambilan O2 lalu memecah senyaw organik menjadi CO2 , H2O, dan energi
Rumput laut : salah satu sumberdaya hayati yang terdapat di wilayah pesisir dan laut
Salinitas : tingkat kadar garam yang terlarut dalam air
Samudra : suatu perairan yang sangat luas dan merupakan massa air asin yang sambung-menyambung meliputi permukaan bumi yang dibatasi oleh benua ataupun kepulauan yang besar
Sapotrof : organisme yang memperoleh energi dan karbon dari bahan organic mati
Sawah : lahan usaha pertanian dengan permukaan rata dibatasi oleh pematang dan biasanya ditanami oleh padi, palawija, atau tanaman budidaya
Sedimen : suatu material organik yang ditransforkan dari berbagai sumber dan diendapkan oleh media udara, angin, es, atau oleh air dan juga termasuk didalamnya material yang diendapakan dari material yang melayang dalam air atau dalam bentuk larutan kimia
Senyawa kimia : zat tunggal yang terdiri dari beberapa unsur dengan reaksi kimia dan dapat diurai kembali menjadi unsur melalui reaksi kimia
Serasah mangrove : daun-daun yang berjatuhan dari pohon mangrove
Siklus biogeokimia :senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik
Spawning ground : tempat pemijahan ikan
Suksesi : proses perubahan dengan berlangsung secara teratur yang terjadi pada suatu komunitas dalam jangka waktu tertentu hingga terbentuk komunitas baru yang berbeda dengan komunitas semula
Sungai : Suatu alran air alami yang menglir dari pegunungan menuju laut,samudra atau danau
Taman nasional: kawasan peestarian alam yang mempunyai ekosistem asli dan di lindungi dan di manfaatkan
Tambak : salah satu jenis usah adi sektor perikanan darat yang biasanya mengkonversi lahan-lahan kosong
Tanah : benda alam yang tersusun atas padatan, cairan, dan gas yang menempati permukaan daratan lapisan-lapisan yang dapat dibedakan dari bahan asalnya sebagai hasil dari proses penambahan, penghilangan, pemindahan, dan transformasi energi dan materi, yang memiliki kemampuan mendukung tanaman berakar di lingkungan alami
Tanin : senyawa polifenol yang dapat membentuk ikatan kompleks dengan protein sehingga menganggu aktivitas enzim-enzim pencernaan
Temperatur : ukuran panas dinginnya suatu benda
Terumbu karang : sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga dan menjadi struktur di dasar laut berupa deposit kalsium karbonat di laut
Topografi : ilmu yang mempelajari tentang bentuk permukaan bumi
Transek : pengamatan secara langsung disuatu lingkungan dan sumber daya masyarakat, dengan cara menelusuri wilayah desa dengan mengikuti suatu lintasan tertentu yang disepakati
Unsur : zat kimia yang tidak dapat dibagi lagi menjadi zat yang lebih kecil

PERUBAHAN JARING MAKANAN AKIBAT KONVERSI LAHAN PESISIR DI KABUPATEN SUBANG

Wilayah pesisir merupakan salah satu kawasan yang sangat strategis dan potensial untuk berbagai pemanfaatan diantaranya pemukiman, industri, pariwisata dan perikanan. Oleh karena itu,  pembangunan kawasan pesisir secara optimal dan berkelanjutan harus dilakukan secara terpadu dan terintegrasi. Hal tersebut sangat penting karena terdapat keterkaitan ekologis antar ekosistem maupun antar kawasan pesisir dengan daratan sekitarnya.

Dalam studi kasus kali ini berkaitan tentang mekanisme alir materi, energi, dan rantai makanan di suatu ekosistem di wilayah jawa barat bagian utara dan pesisir selatan

Secara geografis Provinsi Jawa Barat berada dalam batas kordinat 10408’-108041’ BT dan 5050’- 7050’ LS mencakup luas daratan seluas kurang lebih 43.177 km2.  Jawa Barat memiliki karakterstik pantai utara dan pantai selatan yang berbeda karena memiliki tatanan geologi dan topografi yang berbeda sehinga masng- masing memiliki ciri khusus.

Untuk wilayah pesisir utara Provinsi Jawa Barat, kami mengidentifikasi wilayah pesisir yang berada di kabupaten Subang. Kabupaten ini memiliki panjang garis pantai 68 km dan  wilayah pesisir ini  sejak tahun 1957 mengalami perubahan fungsi lahan dari hutan mangrove menjadi pertambakan ( Ikan bandeng dan Udang). Hal ini yang mengakibatkan hampir seluruh hutan mangrove mengalami rusak parah. Dari segi ekologis jelas, konversi wilayah pesisir ini sangat merusak namun secara signifikan pertambakan  ini merupakan hampir 38 % mata pencaharian penduduk setempat.

Berikut perubahan jaring makanan pada ekosistem pesisir di Kabupaten Subang :

Jaring makanan Ekosistem Mangrove

Jaring makanan Ekosistem tambak


Penambahan daratan atau tanah timbul yang disebabkan mengendapnya sedimen akibat kurangnya daerah resapan (mangrove) menjadikan masyarakat sekitar memperluas lahan tambak mereka sebagai mata pencaharian terbesar di daerah Subang.

Pada ekosistem tambak di daerah Subang bakau merupakan tanaman yang masih bertahan di daerah pesisir karena pertumbuhan ekonomi yang pesat sehingga masyarakat pesisir mengkonversi mangrove menjadi tambak, akibatnya mangrove didaerah tersebut tinggal sedikit, hanya tumbuhan-tumbuhan kecil yang masih bertahan. Kebanyakan masyarakat membudidayakan jenis udang windu dan ikan bandeng.

Walaupun banyak lahan mangrove dikonservasi menjadi tambak, tapi daerah Subang merupakan daerah yang paling banyak mangrove dibandingkan daerah pesisir pantai utara Jawa Barat lainnya.

HUBUNGAN ATMOSFER DAN LAUT DALAM PENGINDERAAN JAUH

Tanpa kita sadari atmosfer mempunyai peranan penting dalam kehidupan kita. Selain sebagai lapisan yang melindungi bumi, atmosfer juga mempunyai peranan penting dalam penginderaan jauh. Banyak para peneliti yang mengasumsikan arti dari pengideraan jauh itu sendiri, Menurut Sabins (1996) dalam Kerle, et al. (2004) menjelaskan bahwa penginderaan jauh adalah ilmu untuk memperoleh, mengolah dan menginterpretasi citra yang telah direkam yang berasal dari interaksi antara gelombang elektromagnetik dengan suatu objek. Sedangkan menurut Lillesand and Kiefer (1993) , Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau fenomena yang dikaji. Pada intinya para peneliti tersebut mengatakan bahwa penginderaan jauh itu adalah seni untuk memperoleh data tentang suatu objek. Untuk itu digunakan kamera yang terpasang pada wahana ruang angkasa yang diluncurkan ke angkasa luar dan sering disebut sebagai satelit. Satelit merupakan suatu benda yang beredar mengelilingi suatu objek yang lebih besar, contohnya bumi yang merupakan satelit dari matahari, ataupun bulan yang selalu mengitari bumi. Bumi atau bulan merupakan satelit alami sedangkan wahana ruang angkasa yang diluncurkan manusia ke angkasa luar merupakan satelit buatan dan merupakan topik perkuliahan kita. Kamera yang dipasang pada satelit berfungsi sebagai indera penglihatan yang melakukan perekaman terhadap permukaan bumi pada saat satelit tersebut beredar mengitari bumi menurut garis orbit atau edarnya. Sensor yang ada pada kamera akan mendeteksi informasi permukaan bumi melalui energi radiasi matahari yang dipantulkan oleh permukaan keatas, data energi pantulan radiasi ini diolah menjadi gejala listrik dan data dikirim ke stasiun pengolahan satelit yang ada di bumi.


Data penginderaan jauh dalam bidang kelautan dapat digunakan untuk mengetahui penyebaran ikan, klorofil di laut, daerah pesisir dengan hutan mangrove, suhu permukaan laut (SPL), fluktuasi air muka laut, dan untuk pembahasan kali ini adalah data penginderaan jauh untuk menentukan interaksi atmosfer dan laut dalam hal pertukaran gas CO2 yang “isunya” adalah salah satu yang mengakibatkan global warming.


Lautan menyerap CO2 dari atmosfer sekitar 2.2 giga ton per tahun atau 30% dari total CO2 yang dihasilkan oleh aktivitas manusia (JGOFS, 2000). CO2 yang masuk kedalam laut berbentuk asam karbonat (carbonic acid) yang akan membuat laut semakin asam. Hal ini akan membuat pH air laut turun dan juga menurunkan konsentrasi ion karbonat. Berkurangnya ion karbonat akan menurunkan kemampuan karang untuk membangun kerangka dan struktur kerang – tulang punggung gugusan koral,seperti yang ditulis disini.


Data penginderaan jauh tentang suhu permukaan laut adalah salah satu cara untuk mengetahui bagaimana fluktuasi pertukaran gas CO2 atmosfer dan laut. Dengan semakin meningkatnya suhu permukaan laut, maka daya larutnya (solubilitas) akan semakin berkurang. Dimana bila suhu permukaan laut tinggi (hangat) maka gambaran proses pertukaran CO2 antara atmosfer dan lautan adalah gas CO2 akan menuju ke atmosfer sedangkan bila suhu permukaan laut rendah (dingin) maka pergerakan pertukaran CO2 adalah dari amosfer menuju laut, seperti yang di tulis disini.


Perubahan suhu laut yang mendadak dapat berdampak negatif, yaitu menurunnya kualitas hingga kerusakan ekosistem laut dan pesisir seperti pemutihan (bleaching) terumbu karang dan kematian budidaya pesisir. Suhu optimum untuk pertumbuhan terumbu karang adalah 25°C-29°C. Peningkatan suhu permukaan laut antara 1°C hingga 2°C biasanya akan diikuti oleh bleaching pada koloni yang tidak tahan terhadap perubahan lingkungan. Pada waktu El Niño kuat yang terjadi pada tahun 1997-1998, coral bleaching terjadi di beberapa wilayah perairan pesisir seperti Sumatera Barat, Sumatera bagian timur, Kepulauan Seribu, Bali, Karimunjawa, Gili Lombok, dan Kalimantan Timur(Hendiarti, 2009).


Dari dua bahan bacaan diatas, dapat sedikit disimpulkan bahwa pertukaran gas C02 antara laut dan atmosfer di karenakan perubahan suhu air laut ( menghangat ) akan berdampak pada penambahan gas CO2 di atmosfer. Penambahan C02 ini lah yang mengakibatkan gas efek rumah kaca yang langsung berpengaruh pada perubahan iklim di seluruh dunia.


Data SPL ini penting untuk mengetahui keseimbangan laut dan atmosfer dari waktu ke waktu sehingga kita dapat mengetahui perubahan iklim dan dampaknya terhadap perairan Indonesia beserta ekosistem yang ada di dalamnya. Selain itu, data SPL juga dapat digunakan untuk memantau berbagai fenomena laut, seperti upwelling, sea front (batas di antara dua jenis masa air), arus eddy (pusaran arus air), pendinginan massa air, serta untuk membuat peta prediksi daerah penangkapan ikan pelagis yang hidup dekat permukaan perairan.


Selain itu, atmosfer merupakan faktor pembatas gelombang. Pada saat suatu satelit melakukan penginderaan terhadap suatu perairan (laut) maka salah satu yg menjadi faktor pembatas adalah atmosfer, karena diatmosfer itu sinyal yg dkirim oleh satelit akan mengalami beberapa proses (ada yang diteruskan, mengalami hamburan, dan ada yang dipantulkan kembali).Dan pada saat sinyal tersebut diteruskan maka pada saat sampai kepermukaan (laut) sinyal tersebut akan mengalami proses yang serupa seperti di atmosfer,dan hanya sinyal- sinyal yang dapat menembuslah yang akan mengalami pemantulan kembali ke satelit, sinyal yg kembali tersebut merupakan data yang di indera (tergantung dari jenis sensor yg digunakan oleh satelit tersebut).

Setelah menelaah data yang telah saya sajikan, betapa pentingnya hubungan atmosfer dan laut bagi kepentingan mahluk hidup didunia, terutama sesuai pembahasan ini mengulas tentang hubungan atmosfer dan laut dalam penginderaan jauh. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa, penginderaan jauh adalah salah satu pengambilan data, yang kemudian data tersebut di racik oleh para peneliti untuk di jadikan suatu data yang dapat dijadikan acuan untuk kepentingan khalayak ramai.

<
Daftar Pustaka

Hendiarti, Nani. 2009. Peneliti pada Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT. Kompas

APRIYANTI RAHAYU
PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2009

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!